Jumat, 25 September 2015

pasang perban

 

 Metode 1 dari 3: Membersihkan Luka
Bandage a Wound During First Aid Step 1 Version 2.jpg
1 Hentikan pendarahan pada luka. Sebelum Anda membersihkan luka dan memasang perban, coba hentikan pendarahannya. Gunakan perban atau kain yang bersih dan kering, lalu tekan bagian luka. Perban atau kain ini akan membantu mencegah bakteri memasuki luka Anda dan mengakibatkan infeksi. Biasanya, pendarahan pada luka akan berhenti setelah 20 sampai 30 menit.[1]
  • Jika pendarahannya tidak berhenti, luka Anda mungkin perlu penanganan medis lebih lanjut segera. Terus tekan luka Anda dan temui dokter atau unit siaga.
 Bandage a Wound During First Aid Step 2 Version 2.jpg

 2 Cuci tangan Anda. Jika memungkinkan, gunakan sabun dan air untuk mensterilkan tangan Ada sebelum mulai membersihkan luka. Ini akan meminimallkan risiko masuknya bakteri dari tangan ke luka Anda.[2]

  • Jika Anda punya, Anda bisa menggunakan sarung tangan medis. Menggunakan sarung tangan ini bisa sangat membantu jika Anda membantu seseorang yang terluka dan ingin menghindari kontak dengan darah dan bakteri.
 Bandage a Wound During First Aid Step 3 Version 2.jpg
 
3 Angkat apa pun yang terlihat pada luka. Jika masih ada tanah, kaca, atau apa pun pada luka, angkat dengan pinset. Bersihkan pinsetnya terlebih dahulu dengan alkohol sebelum digunaakan mencegah infeksi.[3] Hati-hati, jangan sampai Anda malah memperparah lukanya.[4]
  • Jika Anda kesulitan mengangkat benda yang ada pada luka, coba cari bantuan medis. Anda mungkin perlu bantuan untuk membersihkan lukanya dengan benar dan meminimalkan risiko infeksi.
  • Beberapa ahli medis menyarankan untuk membersihkan luka terlebih dahulu sebelum mulai mengangkat kotoran pada luka. Jika hanya berupa tanah atau kotoran kecil lain, Anda mungkin hanya perlu membersihkan luka untuk mengangkatnya.
Bandage a Wound During First Aid Step 4 Version 2.jpg
 
4Bersihkan luka dengan air. Bersihkan luka Anda dengan air hangat selama dua sampai lima menit sampai lukanya terlihat bersih dari kotoran apa pun.
  • Sebagai alternatif, Anda bisa membersihkan luka dengan oralit, baik dibeli maupun buatan sendiri.Untuk membuatnya, cukup campur 1/2 sendok teh garam ke dalam tiap 1/4 liter air.
  • Beberapa ahli menyarankan untuk menggunakan sabun yang lembut untuk membuat luka Anda bersih.[5] Tetapi, beberapa orang mengatakan bahwa sabun bisa menyebabkan iritasi pada kulit yang luka.[6] Tindakan terbaik mungkin dengan menggunakan sabun di area sekitar luka, bukan di luka itu sendiri.[7] 
 
 Bandage a Wound During First Aid Step 5 Version 2.jpg 
 5Lap dengan kain yang lembut. Tekan kainnya dengan lembut, lalu lap untuk memastikan luka tersebut benar-benar bersih. Jangan menekan terlalu keras atau melapnya terlalu kuat. Pastikan Anda sudah membersihkan lukanya dari kotoran yang tersisa.
  • Perlu diingat bahwa melap luka bisa membuat pendarahan ringan kembali terjadi. Tidak masalah, karena membersihkan lukanya jauh lebih penting.[8]
Bandage a Wound During First Aid Step 6 Version 2.jpg
 
6 Evaluasi lukanya. Beberapa luka perlu dijahit agar bisa pulih. Jika Anda melihat satu dari tanda-tanda di bawah ini, cari bantuan medis segera. Jangan langsung memasang perban pada luka tersebut:[9]
  • Luka memiliki kedalaman lebih dari 0,6 cm.
  • Pendarahannya tidak berhenti.
  • Ada bagian luka yang terlihat menganga.
 

Kamis, 24 September 2015

Anak Keracunan Produk Kimia di Rumah!

Akibat Orangtua Lengah, Anak Keracunan Produk Kimia di Rumah!

Hindari menyimpan produk kimia sembarangan di rumah ya, Moms! Si kecil bisa saja loh tidak sengaja memakan/ meminum produk tersebut tanpa sepengetahuan Anda. Rasa ingin tahu anak yang semakin besar, hal ini mendorong si kecil untuk mengonsumsi apa saja yang ada di sekelilingnya.  Maka tak heran jika Anda meletakkan produk kimia sembarangan dan dapat dijangkau si kecil, ia akan tertarik mengambil bahkan memakan/ meminumnya.
 

 

 

 

 

 

Setiap tahunnya, sekitar 2,4 juta orang − lebih dari setengahnya anak berusia kurang dari 6 tahun − menelan atau melakukan kontak dengan produk kimia. Kebanyakan produk kimia tersebut dapat ditemukan dengan mudah di rumah. Di Amerika Serikat, hingga tahun 2015, produk kimia menempati urutan kedua terbesar penyebab kasus keracunan pada anak.
Contoh kasus keracunan fatal di Indonesia pernah terjadi pada tahun 2012. Seperti dilansir kompas.com, bayi asal Sukoharjo, Jawa Tengah mengalami kemo trauma akibat tidak sengaja meminum produk kimia. Kondisinya melepuh dan berwarna putih pucat di bagian mulut.
Diduga karena kelengahan orangtuanya, bayi tersebut meminum cairan pembersih lantai. Tidak hanya mengenai mulut, tetapi juga tenggorokan belakang, serta lambung. Saat dibawa ke RS Kasih Ibu, Kota Solo, Jawa Tengah, tubuh bayi ini sempat membiru, namun dokter spesialis bedah anak dan mulut segera melalukan tindakan medis dan akhirnya bayi itu pun dapat tertolong.
Cairan pembersih lantai mengandung benzalkonium klorida, senyawa kimia golongan ammonium kuartener dan bersifat bakteriostatik. Jika tertelan dapat menyebabkan efek lokal dan sistemik, antara lain rasa sakit di mulut dan kerongkongan (seperti terbakar), muntah, hipersalivasi (sekresi air liur yang berlebihan), dan gangguan gastrointestinal.
Penyebab, Pencegahan, dan Penanganan Keracunan Anak
Terkadang orangtua menganggap suatu bahan tidak berbahaya lalu meletakkannya di sembarang tempat, tapi ternyata bahan tersebut mengandung bahan aktif yang dapat menimbulkan risiko keracunan.
Berikut daftar produk kimia berbahaya yang sering dijumpai di dalam rumah:
  • Cairan pembersih lantai
  • Baterai
  • Racun serangga/ tikus
  • Kapur barus
  • Bahan pemutih
  • Pewarna rambut
  • Deterjen
  • Pembasmi kuman
  • Pewangi ruangan
  • Cuka
  • Cat
  • Pencair cat
  • Air aki
  • Oli mobil/ motor
Apakah anak Anda berisiko keracunan?
Perhatikan beberapa hal ini:
  • Anak usia di bawah 6 tahun berisiko tinggi mengalami keracunan
  • Anak mengalami jatuh sakit secara tiba-tiba, terlebih menunjukkan gejala kejang tanpa mengalami demam, atau tidak sadar diri tanpa sebab yang nyata
  • Anak mengalami muntah secara tiba-tiba tanpa sebab
  • Nafas anak berbau aneh atau terdapat adanya kotoran, luka, atau pecah-pecah di sekitar mulut dan hidung
Bagaimana cara mencegah keracunan pada anak?
  • Simpan bahan-bahan kimia pada tempat tertutup dan terkunci serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jangan meletakkannya di sembarang tempat, apalagi di lantai.
  • Simpanlah bahan-bahan kimia dalam tempat yang secara otomatis akan mengunci saat pintu lemari tertutup.
  • Jangan menyimpan bahan-bahan kimia pada wadah makanan atau minuman atau sebaliknya. Simpanlah hanya pada wadah aslinya atau wadah diberi label berisi nama bahan.
  • Pestisida dan penyegar ruangan akan terakumulasi pada karpet, karena itu bila ingin menyemprot hindari dari karpet. Misalnya, dengan menggulung terlebih dahulu atau jangan gunakan karpet pada ruang tersebut. Lakukan penyemprotan minimal 1 jam sebelum ruangan digunakan.
Bagaimana penanganannya jika anak keracunan?
Penanganan keracunan berbeda-beda sesuai dengan penyebabnya. Berikut adalah pertolongan pertama pada kasus keracunan.
Bila racun tertelan:
  • Jauhkan sumber racun dari anak
  • Usahakan anak meludahkan zat yang masih tersisa di mulut
  • Jangan membuat anak muntah
  • Segera bawa anak ke dokter terdekat
Bila racun kontak dengan mata:
  • Posisi anak duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang terpapar
  • Secara perlahan bukalah kelopak mata dan bilas dengan sejumlah air bersih dingin  selama 15-20 menit
  • Jangan biarkan anak menggosok matanya
  • Tutuplah mata dengan kain kasa steril dan segera bawa anak ke dokter mata
Bila racun kontak dengan kulit:
  • Ganti pakaian anak yang terkena zat beracun
  • Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air mengalir dingin atau hangat minimal 15 menit
  • Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut. Jangan digosok.
Bila racun terhirup:
Pindahkan/ jauhkan anak dari paparan inhalasi ke udara segar.

Note:
Perhatikan! Jika anak tidak sadar, kejang-kejang jangan lakukan rangsang muntah dan jangan memberikan air susu untuk diminum. Segera bawa ke rumah sakit/ dokter terdekat.
Kejadian keracunan di rumah dapat dihindarkan bila orangtua mengetahui risiko bahaya yang ditimbulkan bahan-bahan tersebut dan bagaimana mencegahnya. Coba lihat lagi ya Moms, apakah rumah Anda sudah aman bagi si kecil?

 

Prosedur Penanganan Kebakaran di Gedung Perkantoran

Prosedur Penanganan Kebakaran di Gedung Perkantoran
















Ikuti petunjuk di bawah ini.
  1. Pergi ke panel hydrant terdekat dan pecahkan kaca bertanda "Break Glass Here."
  2. Beri tahu pihak keamanan dan informasikan lokasi kebakaran.
  3. Berusaha memadamkan api menggunakan APAR. (Catatan: selang kebakaran hanya boleh digunakan oleh pihak pemadam kebakaran).
  4. Jika tidak dapat dipadamkan, tutup semua pintu menuju ke lokasi kebakaran, beri tahu situasinya kepada pihak keamanan dan mulai prosedur evakuasi.
  5. Jangan menggunakan lift dan jelaskan situasinya bila petugas pemadam kebakaran tiba

Jika mendengar tanda alarm terus menerus
  1. Tetaplah tenang.
  2. Amankan semua dokumen-dokumen penting.
  3. Matikan dan lepaskan semua peralatan listrik.
  4. Dengarkan baik-baik pengumuman yang disampaikan facility management melalui pengeras suara dan ikuti petunjuk yang diberikan oleh floor warden.
  5. Jika kebakaran tidak dapat dikuasai, tutup semua pintu ruang yang terbakar dan segera tinggalkan tempat tersebut melalui tangga darurat terdekat. Jangan menggunakan lift.
Prosedur Evakuasi
  1. Jika mendengar bunyi alarm secara terus menerus dari kotak hydrant, floor warden akan segera memberikan petunjuk evakuasi/pengungsian.
  2. Jangan panik, berjalanlah dengan cepat menuju tangga darurat terdekat. Jangan menggunakan lift.
  3. Jangan menghalangi orang lain yang masuk ke tangga darurat dari lantai di bawahnya.
  4. Jangan kembali untuk mengambil barang-barang jika sudah berada dalam tangga darurat atau keluar dari gedung.
  5. Floor warden bertanggung jawab dalam melakukan prosedur evakuasi.
  6. Semua orang yang dievakuasi harus langsung menuju titik kumpul sampai ada petunjuk selanjutnya.
  7. Instruksi untuk kembali ke gedung diberikan oleh facility management setelah keadaan dinyatakan aman.
Gempa Bumi
  1. Berada di bawah meja yang dapat memberikan keamanan serta udara yang cukup.
  2. Carilah kolom bangunan atau lorong yang memungkinkan tidak terdapat benda-benda yang dapat roboh di area kerja Anda.
  3. Tangga darurat gedung adalah area yang paling aman dari reruntuhan.
  4. Jauhkan diri dari jendela, rak buku, lampu atap, tempat file dan barang-barang berat lain yang dapat jatuh dan melukai Anda.
  5. Jika Anda berada dalam lift, usahakan segera keluar dari lift.
  6. Tunggu sampai ada instruksi selanjutnya dari pengelola gedung.
  7. Tetap tenang/jangan panik
  8. Jangan menggunakan lift
  9. Jika Anda berada di luar, jauhi gedung.
Pengobatan Darurat
  1. Karyawan harus menghubungi pihak keamanan untuk memberitahukan adanya korban.
  2. Karyawan sebaiknya memberikan informasi seperti di bawah ini:
  3. Nama, jenis kelamin dan perkiraan umur korban.
  4. Lokasi keberadaan korban.
Floor Waden
  1. Floor warden ditunjuk oleh facility management (peraturan K3).
  2. Diperlengkapi dengan bendera, peluit dan handy talky.
  3. Memberitahukan kepada seluruh karyawan mengenai lokasi jalan keluar.
  4. Jika ada perintah evakuasi, menjamin seluruh karyawan meninggalkan gedung dengan menggunakan tangga darurat dan berkumpul di lokasi yang telah ditentukan.
  5. Memiliki daftar karyawan terbaru untuk keperluan absensi pada saat evakuasi.
  6. Memastikan semua staf di bawah tanggung jawabnya, mengerti prosedur evakuasi dan letak lokasi berkumpul yang dituju pada saat evakuasi.
  7. Memastikan tidak ada penghalang apapun pada tangga darurat.
  8. Memprioritaskan bantuan kepada wanita hamil, orang lansia, penyandang disabilitas, dan orang yang dalam keadaan sakit.







CARA MENGGUNAKAN ALAT PEMADAM API RINGAN



 ALAT PEMADAM API RINGAN

luka bakar




LUKA BAKAR
A.     Definisi
Luka bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas (thermal), kimia, elektrik, dan radiasi.
B.     Patofisiologi
  1.  Berat ringannya luka bakar tergantung pada faktor, agent, lamanya terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan dengan trauma, usia dan kondisi penyakit sebelumnya.
  2.  Derajat luka bakar terbagi menjadi tiga bagian; derajat satu (superficial) yaitu hanya mengenai epidermis dengan ditandai eritema, nyeri, fungsi fisiologi masih utuh, dapat terjadi pelepuhan, serupa dengan terbakar mata hari ringan.  Tampak 24 jam setelah terpapar dan fase penyembuhan 3-5 hari.  Derajat dua (partial) adalah mengenai dermis dan epidermis dengan ditandai lepuh atau terbentuknya vesikula dan bula, nyeri yang sangat, hilangnya fungsi fisiologis.  Fase penyembuhan tanpa infeksi 7-21 hari.  Derajat tiga atau ketebalan penuh yaitu mengenai seluruh lapisan epidermis dan dermis, tanpa meninggalkan sisa-sisa sel epidermis untuk mengisi kembali daerah yang rusak, hilangnya rasa nyeri, warnanya dapat hitam, coklat dan putih, mengenai jaringan termasuk (fascia, otot, tendon dan tulang).
  3. Fisiologi syok pada luka bakar akibat dari lolosnya cairan dalam sirkulasi kapiler secara massive dan berpengaruh pada sistem kardiovaskular karena hilangnya atau rusaknya kapiler, yang menyebabkan cairan akan lolos atau hilang dari compartment intravaskuler kedalam jaringan interstisial.  Eritrosit dan leukosit tetap dalam sirkulasi dan menyebabkan peningkatan hematokrit dan leukosit.  Darah dan cairan akan hilang melalui evaporasi sehingga terjadi kekurangan cairan.
  4.  Kompensasi terhadap syok dengan kehilangan cairan maka tubuh mengadakan respon dengan menurunkan sirkulasi sistem gastrointestinal yang mana dapat terjadi ilius paralitik, tachycardia dan tachypnea merupakan kompensasi untuk menurunkan volume vaskuler dengan meningkatkan kebutuhan oksigen terhadap injury jaringan dan perubahan sistem.  Kemudian menurunkan perfusi pada ginjal, dan terjadi vasokontriksi yang akan berakibat pada depresi filtrasi glomerulus dan oliguri.
  5.   Repon luka bakar akan meningkatkan aliran darah ke organ vital dan menurunkan aliran darah ke perifer dan organ yang tidak vital.
  6. Respon metabolik pada luka bakar adalah hipermetabolisme yang merupakan hasil dari peningkatan sejumlah energi, peningkatan katekolamin; dimana terjadi peningkatan temperatur dan metabolisme, hiperglikemi karena meningkatnya pengeluaran glukosa untuk kebutuhan metabolik yang kemudian terjadi penipisan glukosa, ketidakseimbangan nitrogen oleh karena status hipermetabolisme dan injury jaringan.
  7.  Kerusakan pada sel daerah merah dan hemolisis menimbulkan anemia, yang kemudian akan meningkatkan curah jantung untuk mempertahankan perfusi.
  8.  Pertumbuhan dapat terhambat oleh depresi hormon pertumbuhan karena terfokus pada penyembuhan jaringan yang rusak.
  9.  Pembentukan edema karena adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan pada saat yang sama terjadi vasodilatasi yang menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler.  Terjadi pertukaran elektrolit yang abnormal antara sel dan cairan interstisial dimana secara khusus natrium masuk kedalam sel dan kalium keluar dari dalam sel.  Dengan demikian mengakibatkan kekurangan sodium dalam intravaskuler.
Skema berikut menyajikan mekanisme respon luka bakar terhadap injury pada anak/orang dewasa dan perpindahan cairan setelah injury thermal.

  Menentukan luka bakar menurut Lund dan Browder :
Tingkat Usia
Area luka bakar
0-1 Tahun
1-4 Tahun
5-9 Tahun
10-14 Tahun
15 Tahun
Dewasa
2 %
3 %
Total
Kepala
19
17
13
11
9
7



Leher
2
2
2
2
2
2



Dada
13
13
13
13
13
13



Punggung
13
13
13
13
13
13



Lengan kanan atas
4
4
4
4
4
4



Lengan kiri atas
4
4
4
4
4
4



Lengan kanan bawah
3
3
3
3
3
3



Lengan kiri bawah
3
3
3
3
3
3



Tangan kanan
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Tangan kiri
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Genetalia
1
1
1
1
1
1



Bokong kanan
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Bokong kiri
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5



Paha kanan
5,5
6,5
8
8,5
9
9,5



Paha kiri
5,5
6,5
8
8,5
9
9,5



Tungkai kanan
5
5
5,5
6
6,5
7



Tungkai kiri
5
5
5,5
6
6,5
7



Kaki kanan
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5



Kaki kiri
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5









Total





C.     Komplikasi
v  Syok hipovolemik
v  Kekurangan cairan dan elektrolit
v  Hypermetabolisme
v  Infeksi
v  Gagal ginjal akut
v  Masalah pernapasan akut; injury inhalasi, aspirasi gastric, pneumonia bakteri, edema.
v  Paru dan emboli
v  Sepsis pada luka
v  Ilius paralitik
Berat ringannya luka bakar dari American Burn Association dalam Whaley and Wong, (1999) adalah sebagai berikut :
1.        Luka bakar minor adalah luka bakar kurang dari 10% luas permukaan tubuh.
2.        Luka bakar moderate adalah luka bakar 10-20 % luas permukaan tubuh.
3.        Luka bakar mayor adalah luka bakar lebih dari 20 % luas permukaan tubuh.

 D.     Etiologi
v  Thermal; air panas, api, panas permukaan
v  Kimia; asam, alkali dan lainnya
v  Radiasi; terapi dan sinar ultraviolet
v  Elektrik
E.     Manifestasi Klinis
v  Riwayat terpaparnya
v  Lihat derajat luka bakar
v  Status pernapasan; tachypnea, tekanan nadi lemah, hipotensi, menurunnya pengeluaran urine atau anuri.
v  Perubahan suhu tubuh dari demam ke hipotermi.
F.     Penatalaksanaan Terapeutik
v  Mempertahankan jalan nafas
v  Pemberian oksigen 100% untuk intoksikasi karbon monoksida.
v  Monitor analisa gas darah
v  Escharotomy
v  Terapi cairan; formula Parkland sering digunakan; pada anak 4 ml ringer laktat/kg berat badan/luas permukaan luka bakar, dalam 24 jam pertama setelah luka bakar.  Setengah jumlah cairan yang dihitung diberikan dalam 8 jam pertama setelah terjadinya cedera.  Setengah sisanya diberikan merata selama 16 jam berikutnya.  Pantau pengeluaran urin harus mencapai (1 ml/kg berat badan/jam).  Kemudian 24 jam kedua terapi cairan ringer laktat dengan dekstrosa 5%.  Terapi albumin dapat diberikan bila indikasi.
v  Monitor kelebihan cairan
v  Lakukan kateterisasi untuk memantau urine autput (pengeluaran urine)
v  Monitor serum elektrolit sesuai program.
v  Antibiotik untuk mencegah infeksi
v  Terapi analgetik
v  Perawatan luka harus steril
v  Hidroterapi
v  Terapi fisik
v  Skin graff bila indikasi
v  Monitor gravitasi urine atau berat jenis urine.
v  Penderita dengan luas luka bakar lebih dari 15 % tidak boleh diberikan cairan per oral pada awalnya karena dapat terjadi ilius.
G.    Penatalaksanaan Perawatan
Pengkajian
v  Pengkajian awal adalah menentukan kegawatan luka bakar.
v  Bila ringan atau sedang fokus pada penatalaksanaan nyeri dan perawatan luka.
v  Bila luka bakar berat, pengkajian meliputi; kepatenan jalan nafas, kaji vaskular, urine output (pengeluaran urine), tanda-tanda vital, gejala syok, intensitas nyeri, kaji luka, pantau analisa gas darah, pulse oximetry, dan kaji bising usus.
v  Kaji perilaku klien dan perubahan kesadaran.
Diagnosa Keperawatan
1.        Tidak efektif bersihkan jalan nafas dan gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru, injury pulmonal sekunder dari smoke Inhalation, karbon monoksida atau hipoksia.
2.        Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan luka bakar.
3.        Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari intravaskular ke dalam rongga interstisial dan hilangnya cairan secara evaporasi.
4.        Nyeri berhubungan dengan rusaknya ujung-ujung syaraf, trauma dan edema karena injury luka bakar, dan prosedur.
5.        Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar, injury thermal.
6.        Risiko infeksi berhubungan dengan hilangnya lapisan pelindung kulit sekunder dari luka bakar, atau luka yang terkontaminasi.
7.        Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme dan peningkatan kebutuhan kalori dan protein.
8.        Risiko gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan luka bakar, nyeri, gangguan pergerakan sendi, dan adanya pembentukan skar.
9.        Risiko tidak efektif termuregulator berhubungan dengan hilangnya panas dan perubahan mekanisme kulit untuk mempertahankan suhu tubuh.
10.      Gangguan citra tubuh, perubahan proses keluarga, tidak efektif coping keluarga, dan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan luka bakar.
Perencanaan
1.     Kepatenan jalan nafas dapat dipertahankan yang ditandai dengan saturasi oksigen dalam batas normal, jalan nafas dan bunyi nafas bersih.
2.     Anak akan menunjukkan pengeluaran urine lebih kurang atau sama dengan 1 ml/kg berat badan/jam untuk 24 jam pertama setelah injury dan tetap terpantau.
3.     Anak akan memperlihatkan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4.     Anak merasakan nyeri berkungan yang ditandai dengan anak dapat beristirahat dan beraktivitas sesuai kebutuhan.
5.     Luka bakar akan sembuh tanpa infeksi.
6.     Luka bakar akan mengalami penyembuhan tanpa infeksi, tidak ada sepsis, dan tidak ada infeksi pulmonal.
7.     Status metabolisme seimbang yang ditandai dengan berat badan stabil, serum elektrolit normal, penyembuhan luka yang cepat, intake makanan dapat dipertahankan 90% sesuai kebutuhan.
8.     Anak akan mencapai fungsi aktivitas yang optimum.
9.     Fungsi termuregulator dapat dipertahankan yang ditandai dengan suhu tubuh dalam batas normal.
10.  Klien dan keluarganya mengekspresikan perasaan tentang kondisi anak, pengobatan, prosedur dan partisipasi dalam perawatan anak.
Implementasi
1.    Mempertahankan kepatenan jalan nafas dan pertukaran gas;
v  Kaji status pernafasan setiap jam untuk 72 jam pertama.
v  Monitor analisa gas darah.
v  Monitor pulse oximetry
v  Pemberian oksigen sesuai program
v  Latihan nafas dalam dan batuk efektif setiap 1-2 jam sekali bila tidak tidur.
v  Tinggikan posisi kepala 15-30 derajat.
v  Pengisapan (suction) lendir bila perlu.
2.    Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat;
v  Berikan cairan intravena dan oral sesuai dengan kebutuhan dan pantau secara ketat.
v  Monitor urine output (pengeluaran urine) dan catat bila kurang dari 1 ml/kg berat badan jam dan lapor ke penanggung jawab.
v  Kaji tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit; hypokalemia dan hyperkalemia, hyponatremia dan hypernatremia, hypochloremia, hypercalcemia dan hypocalcemia.
v  Monitor status neurology
v  Monitor nadi perifer dan nadi bagian distal serta catat adanya perubahan dan lakukan kolaborasi.
3.    Mempertahankan volume cairan dalam batas normal;
v  Monitor tanda-tanda vital sampai stabil
v  Monitor pemasukan dan pengeluaran.
v  Timbang berat badan setiap hari.
v  Monitor elektrolit, Hgb, dan Hct.
v  Pemberian terapi intravena dan oral.
v  Pemberian kalium bila kalium rendah.
4.    Mengurangi rasa nyeri;
v  Kaji tingkat nyeri dengan skala 1-10
v  Catat HR, tekanan darah dan pernafasan
v  Pemberian obat nyeri 20-30 menit sebelum prosedur perawatan luka
v  Hati-hati dalam perawatan kulit.
v  Gunakan kontak taktil
v  Gunakan terapi distraksi
v  Kurangi hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri.
v  Lakukan pergerakan aktif dan pasif
v  Pengaturan posisi yang tepat.
5.    Meningkatkan penyembuhan luka dan integritas kulit;
v  Kaji luka pada fase akut: perubahan warna, kulit, membran mukosa dan kuku.
v  Rubah posisi setiap 2 jam atau sesuai kebutuhan klien terutama bagian tulang-tulang yang resiko menimbulkan decubitus.
v  Cegah adanya gesekan pada kulit.
v  Support dengan bantal pada bagian tertentu yang dibutuhkan.
v  Lakukan perawatan luka dengan steril; menggunakan sarung tangan, baju khusus, gunakan larutan normal saline yang steril untuk membersihkan luka.
v  Jaga agar kulit tetap kering.
6.    Mencegah infeksi :
v  Kaji luka selama mengganti balutan.
v  Gunakan teknis steril saat melakukan perawatan luka.
v  Kaji adanya sepsis; perubahan status neurology, hypothermia, demam oliguria.
v  Angkat eschar secara hati-hati.
v  Mencuci tangan dengan teknik aseptic setiap akan menyentuh
v  Bersihkan luka dengan larutan steril (normal saline)
v  Gunakan standar pencegahan universal; baju khusus, mencuci tangan, menggunakan masker (semua personel yang mendekati anak).
v  Pantau tanda-tanda vital; suhu, nadi.
v  Observasi luka; purulent dan drainage.
v  Pemberian antibiotik sesuai program.
7.    Meningkatkan status nutrisi yang optimum.
v  Berikan nutrisi; kue-kue atau makanan kecil yang tinggi, kalori dan protein.
v  Hindari nyeri saat prosedur karena nyeri dapat menurunkan nafsu makan.
v  Berikan vitamin dan mineral
v  Berikan makanan tambahan yang dapat menambah nafsu makan.
v  Antisipasi total nutrisi parenteral.
8.    Meningkatkan fungsi aktivitas.
v  Jelaskan pentingnya latihan dan lakukan latihan pergerakan aktif dan pasif.
v  Observasi kontriksi eschar khususnya persendian; kontraktor.
v  Ajarkan cara meningkatkan penggunaan fungsi pergerakan.
v  Pemberian analgetik sebelum melakukan aktivitas, bila perlu.
v  Tingkatkan aktivitas diri
v  Libatkan keluarga untuk melakukan pergerakan persendian, fleksi, ekstensi, rotasi, abduksi-abduksi.
9.    Meningkatkan fungsi termuregulator
v  Monitor tanda vital; suhu
v  Kaji kulit, dingin, perubahan warna dan pengisian kembali kapiler (capillary refill).
v  Observasi demam dan menggigil.
v  Hindari stress yang dingin.
10.  Meningkatkan konsep diri, koping yang positif dan pemahaman kondisi dan pengobatan.
v  Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan.
v  Jelaskan tentang kondisi luka bakar, perawatan dan pengobatannya dan jelaskan apa yang dapat dilakukan oleh keluarga.
v  Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan termasuk alasannya.
v  Kaji support sistem keluarga.
v  Demonstrasikan cara merawat luka dengan teknik aseptic.
v  Tenangkan klien dan keluarganya dengan komunikasi yang terapeutik.
v  Antisipasi perilaku regresi. 
Rencana Pemulangan
v  Jelaskan resiko terjadinya luka bakar, dan pencegahannya.
v  Instruksikan untuk meningkatkan status nutrisi dengan mengkonsumsi makanan tinggi protein dan kalori, pemberian mineral dan vitamin.
v  Informasikan gejala-gejala komplikasi.
v  Tekankan pentingnya terapi fisik dan latihan yang teratur.
v  Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan.
v  Jelaskan hal penting dengan terjadinya perubahan kondisi; komplikasi dan segera lapor ke dokter atau perawat.
v  Jelaskan mungkin perlu dilakukan bedah plastik dan konsul ke ahli bedah plastik.

Referensi :
Brunner & Suddarth, (1996) Text Book of Medical-Surgical Nursing,
Suriadi & Yuliani, (2001) Asuhan Keperawatan pada Anak,